Welcome to my blog ^^ welcome to my blog ^^

Kamis, 31 Maret 2011

Kisah Nyata Near Death Experiences(Mati Suri)

Apa yang terjadi ketika kita mati?
Kemana kita pergi?
Apa yang kita lihat dan rasakan?

Near Death Experiences adalah kisah pengakuan dari mereka yang pernah berada di ambang batas antara kehidupan dan alam kematian..yang mana pengalaman mereka menjawab semua pertanyaan di atas.
Di bawah ini saya akan menceritakan salah satu kesaksian,dimana seseorang benar-benar mengalami mati suri..yuu disimak,hehe
Saat itu 24 februari 1982,Rene Turner sedang bersama kekasihnya,Miles,berkendara pulang ke rumah.Saat itu sekitar pukul 6 sore,Miles duduk di jok penumpang disamping Rene dan Stuart,temannya duduk berbaring di jok belakang.
Saat itu hujan,dan mereka melaju mendekati persimpangan,berbelok tapi kemudian tergelincir karena jalanan basah oleh air hujan,meskipun kecepatan hanya 43 km/jam.Akhirnya mereka membentur tiang listrik besar di persimpangan itu,akibatnya Stuart terlempar ke depan dan membentur belakang kepala Rene.

Kemudi pecah,pasak kemudi dan indikator menghantam tubuh Rene di tiga bagian,menembus keongkongan hingga ke langit-langit mulut,juga torak atas dan bawah.
Ajaibnya,Miles bisa keluar dengan hanya luka memar akibat sabuk pengaman.Tapi,tulang belakang Stuart patah akibat kecelakaan itu,sehingga tangan dan kakinya menjadi lumpuh.
Lalu mereka pun dilarikan ke rumah sakit..
Rene dipasangi ventilator dan kemudian dipindahkan ke ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut,sekitar pukul 9.30 malam,dokter menemukan bahwa otaknya mati,tetapi hal itu tidak menentukan bahwa pasien telah mati.Rene mengalami koma selama 10 hari dan sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya,Rene telah dinyatakan meninggal.

Tetapi sesaat ketika dipindahkan ke kamar jenazah,tiba-tiba Rene sadar dan dia hidup,duduk dan berbicara,seolah-olah dia bangun dari tidurnya padahal rumah sakit telah menyatakan dirinya telah meninggal..
Kemudian orang-orang rumah sakit panik dan terkejut,Rene pun menceritakan apa yang terjadi saat dia koma..
" Kebenarannya,aku berada di tmpt lain,melakukan perjalanan menyingkir dari cahaya menyilaukan lampu rumah sakit dan suara mesin yg bising.Aku sama sekali tidak tahu kapan perjalanan itu dimulai,atau berapa lama itu berlangsung.Yang kutahu itu semua nyata bahkan lebih nyata ketimbang kehidupan dan aku masih mengingatnya dengan jelas.Aku tidak ingat akan proses aku mati atau meninggalkan tubuhku.

Yang kuketahui adalah kepalaku bergerak terlebih dulu memasuki pusaran gelap yang tampak seperti awan panas.Aku ketakutan.Aku tidak tahu bentukku,apakah aku memiliki tubuh atau tidak.Di atasku terbersit setitik cahaya yanbg perlahan-lahan membesar dan semakin benderang seiring semakin dekatnya aku ke arahnya.Lalu aku bergerak menuju cahaya dengan bersemangat dan saat di dalam cahaya gemilang itu aku tiba di sebuah ruangan tanpa dinding.

Seluruh tempat itu berwarna putih,seolah-olah terbuat dari cahaya.Di depanku berdiri seorang pria yang kelihatannya berusia tiga puluhan dengan tinggi sekitar enam kaki.Rambutnya yang panjang sebahu berwarna coklat kemerahan,dengan kumis dan janggut yang luar biasa rapi.Dia mengenakan jubah putih sederhana,dan tubuhnya seperti memancarkan cahaya.Aku tidak tahu siapa dia,dia tidak mengenalkan dirinya.Tapi aku seperti mengenalnya dan dia mengenalku.Aku merasa pria ini berusia lanjut dan memiliki kedalaman kebijaksanaan.Ketika dia berdiri di hadapanku,kurasakan dia memancarkan cinta kasih yang begitu kuat,rasa damai,ketenangan hati,rasa penerimaan,empati,dan sukacita.Aku merasa begitu diterima,dicintai dan bahkan diharapkan.Aku merasa berada di rumah.

Dia berdiri di sampingku dan mengarahkanku untuk melihat ke sebelah kiriku yang menampilkan kilasan bagian-bagian kehidupanku yg kurang menarik.Aku mengenang kembali saat-saat itu dan bisa merasakan tidak hanya apa yang telah kulakukan,tapi juga rasa sakit yang kutimbulkan.Aku merasa terkejut menyaksikan apa yang kucemaskan tidak terjadi,sementara hal-hal biasa yg pada saat itu tidak kusadari akan membuatku kecewa,justru terpampang di sana.Misalnya,di sana terpampang kekecewaan yg dirasakan guru TPA karena aku berbicara kasar.Aku melihat kembali tindakanku,ketika aku menyebutnya guru bodoh karena tidak mendengarkanku,kemudian menyaksikan kesedihannya yang ditumpahkan mjd tangisan diam-diam di suatu ruangan.

Di sekolah menengah pertama,aku mengadukan seorang anak yg sudah menggangguku dan melebih-lebihkannya.Secara tidak langsung,tindakanku itu membuatnya dihukum oleh ayahnya.Sekali lagi,aku menyaksikan bagaimana perasaanku saat itu dan perasaan anak itu.
Ketika semua kejadian-kejadian itu ditayangkan,aku tidak merasa dihakimi.Yang kurasakan adalah beban perasaan bersalah.Melihat hal ini,sang penjaga gerbang yang penuh kasih itu mengarahkanku utk melihat hal2 baik yg telah kulakukan,tindakan kepedulian thdp orang lain.Aku melihat nyawa2 yang telah kuselamatkan atau coba kuselamatkan karena aku bekerja di bidang yg menyelamatkan nyawa dan petugas ambulans.Aku tidak ingin memerincinya karena aku merasa tidak nyaman bila mengingat kegagalanku menyelamatkan nyawa org lain.

Setelahnya aku dibimbing lebih dalam memasuki ruangan itu,yg kemudian mnjd aula.Lalu muncullah kakekku.Aku begitu senang bertemu dengannya.Bibir sumbing yg menjadi cirinya telah hilang dan dia terlihat lebih muda ketimbang yg kukenal.Dia juga sangat riang
Meskipun aku tidak menyadari apakah aku memiliki bentuk fisik,aku bisa merasakan pelukannya dan merasa begitu bahagia.Kakekku meninggal ketika aku berusia 14 tahun,dan aku tdk menyadari betapa aku sangat marah karena dia meninggal.Setelah kakek dan aku berbicara sebentar,dia mengajakku memasuki ruangan lebih dalam dan kami mendekati sekerumunan org yg samar2 kukenalimeskipun aku tdk tahu dmn kukenal mereka.Orang yg menyambutku disana,datang dan meletakkan tangannya di bahuku dan memutarku ke arahnya.Sekali lagi aku bisa merasakan sentuhannya,meskipun aku masih tidak sadar bahwa aku memiliki " tubuh"
"Kau harus kembali," katanya." Kau punya tugas."


Aku tdk diberikan perincian mengenai tgs itu.Aku ingin membantah,aku ingin tinggal disana.Aku memandang kakekku tapi aku didorong ke pintu masuk.Di ambang pintu,semua mjd gelap.Kemudian tak ada apa-apa,aku tidak sadar.
Semua itu terjadi pada koma pertama.Ketika aku terbangun,aku masih terombang-ambing oleh pengalaman itu.Aku tdk begitu ingat apa yg terjadi selama 3 hari kemudian,tapi yg jelas aku berbicara mengenai bnyk hal dan aku juga merasa marah kepada Tuhan karena mengirimku kembali.Aku merasa bahwa aku berada di "rumah" ketika aku bersama dengan kakekku.


Ketika aku meninggalkan rumah sakit setelah 3bulan perawatan,aku masih merasa kesakitan dan menderita penglihatan ganda,anosmia(kehilangan indra penciuman),dan kerusakan 8 saraf kranial,yg membuatku merasa mual dan mempengaruhi keseimbanganku.Aku masih merasa marah karena dikirim kembali ke dunia dgn segala penderitaan ini.Tiga bulan setelah meninggalkan rumah sakit,aku berusaha mengakhiri hidupku dan berharap menemukan kembali rasa damai yg kualami pada saat mati suri.Aku meraih pistol dan menarik pelatuknya.Tapi bukan suara dor yg kudengar,melainkan hanya bunyi klik kecil.Aku memaki Tuhan karena mencegahku melepaskan diri dari penderitaanku.


Aku pernah membuat kesepakatan dengan Tuhan perihal kemungkinan kembali ke sana.Aku berkata,"Jika aku kembali ke dunia utk menolong orang lain,atau utk terlibat dgn kelompok2 aksi,bisakah aku kembali ke "rumah"?


Tapi itu tdk berjalan lancar.Nyata sekali,kunci "Tugas" yg kuemban tdk terletak di politik atau kegiatan membantu orang2 cacat.Mungkin,yg mnjd tugasku adalah berbuat baik kepada sesama dan membantu semampuku.


Pengalaman mati suri telah mengubah pandanganku thdp agama.Aku tidak percaya hanya ada satu agama yg benar,menurutku,jika seseorang menganut sebuah agama,mereka harus benar2 mengamalkannya,dan tidak hanya di permukaannya saja.Dan jika mereka tdk bisa mengamalkan ajaran agamanya,seharusnya mereka membangun keyakinan moral yg bisa mereka terapkan.


Dan,tentu saja aku tidak lagi memiliki ketakutan akan kematian.Aku hanya berdoa apa pun "tugas" itu,bisa segera kuselesaikan,sehingga aku bisa segera terbebas dari perjuangan dalam mengerjakannya.
Aku ingin pulang."


Itulah sepenggal cerita dari Rene Turner mengenai mati suri yang benar-benar dialaminya.
Untuk lebih jelas dan mendetail mengenai kisah orang2 yg mengalami mati suri dan apa saja yg dilihat maupun dirasakan,dapat anda beli buku berjudul "Near Death Experiences" oleh Tammy Cohen






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 31 Maret 2011

Kisah Nyata Near Death Experiences(Mati Suri)

Apa yang terjadi ketika kita mati?
Kemana kita pergi?
Apa yang kita lihat dan rasakan?

Near Death Experiences adalah kisah pengakuan dari mereka yang pernah berada di ambang batas antara kehidupan dan alam kematian..yang mana pengalaman mereka menjawab semua pertanyaan di atas.
Di bawah ini saya akan menceritakan salah satu kesaksian,dimana seseorang benar-benar mengalami mati suri..yuu disimak,hehe
Saat itu 24 februari 1982,Rene Turner sedang bersama kekasihnya,Miles,berkendara pulang ke rumah.Saat itu sekitar pukul 6 sore,Miles duduk di jok penumpang disamping Rene dan Stuart,temannya duduk berbaring di jok belakang.
Saat itu hujan,dan mereka melaju mendekati persimpangan,berbelok tapi kemudian tergelincir karena jalanan basah oleh air hujan,meskipun kecepatan hanya 43 km/jam.Akhirnya mereka membentur tiang listrik besar di persimpangan itu,akibatnya Stuart terlempar ke depan dan membentur belakang kepala Rene.

Kemudi pecah,pasak kemudi dan indikator menghantam tubuh Rene di tiga bagian,menembus keongkongan hingga ke langit-langit mulut,juga torak atas dan bawah.
Ajaibnya,Miles bisa keluar dengan hanya luka memar akibat sabuk pengaman.Tapi,tulang belakang Stuart patah akibat kecelakaan itu,sehingga tangan dan kakinya menjadi lumpuh.
Lalu mereka pun dilarikan ke rumah sakit..
Rene dipasangi ventilator dan kemudian dipindahkan ke ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut,sekitar pukul 9.30 malam,dokter menemukan bahwa otaknya mati,tetapi hal itu tidak menentukan bahwa pasien telah mati.Rene mengalami koma selama 10 hari dan sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya,Rene telah dinyatakan meninggal.

Tetapi sesaat ketika dipindahkan ke kamar jenazah,tiba-tiba Rene sadar dan dia hidup,duduk dan berbicara,seolah-olah dia bangun dari tidurnya padahal rumah sakit telah menyatakan dirinya telah meninggal..
Kemudian orang-orang rumah sakit panik dan terkejut,Rene pun menceritakan apa yang terjadi saat dia koma..
" Kebenarannya,aku berada di tmpt lain,melakukan perjalanan menyingkir dari cahaya menyilaukan lampu rumah sakit dan suara mesin yg bising.Aku sama sekali tidak tahu kapan perjalanan itu dimulai,atau berapa lama itu berlangsung.Yang kutahu itu semua nyata bahkan lebih nyata ketimbang kehidupan dan aku masih mengingatnya dengan jelas.Aku tidak ingat akan proses aku mati atau meninggalkan tubuhku.

Yang kuketahui adalah kepalaku bergerak terlebih dulu memasuki pusaran gelap yang tampak seperti awan panas.Aku ketakutan.Aku tidak tahu bentukku,apakah aku memiliki tubuh atau tidak.Di atasku terbersit setitik cahaya yanbg perlahan-lahan membesar dan semakin benderang seiring semakin dekatnya aku ke arahnya.Lalu aku bergerak menuju cahaya dengan bersemangat dan saat di dalam cahaya gemilang itu aku tiba di sebuah ruangan tanpa dinding.

Seluruh tempat itu berwarna putih,seolah-olah terbuat dari cahaya.Di depanku berdiri seorang pria yang kelihatannya berusia tiga puluhan dengan tinggi sekitar enam kaki.Rambutnya yang panjang sebahu berwarna coklat kemerahan,dengan kumis dan janggut yang luar biasa rapi.Dia mengenakan jubah putih sederhana,dan tubuhnya seperti memancarkan cahaya.Aku tidak tahu siapa dia,dia tidak mengenalkan dirinya.Tapi aku seperti mengenalnya dan dia mengenalku.Aku merasa pria ini berusia lanjut dan memiliki kedalaman kebijaksanaan.Ketika dia berdiri di hadapanku,kurasakan dia memancarkan cinta kasih yang begitu kuat,rasa damai,ketenangan hati,rasa penerimaan,empati,dan sukacita.Aku merasa begitu diterima,dicintai dan bahkan diharapkan.Aku merasa berada di rumah.

Dia berdiri di sampingku dan mengarahkanku untuk melihat ke sebelah kiriku yang menampilkan kilasan bagian-bagian kehidupanku yg kurang menarik.Aku mengenang kembali saat-saat itu dan bisa merasakan tidak hanya apa yang telah kulakukan,tapi juga rasa sakit yang kutimbulkan.Aku merasa terkejut menyaksikan apa yang kucemaskan tidak terjadi,sementara hal-hal biasa yg pada saat itu tidak kusadari akan membuatku kecewa,justru terpampang di sana.Misalnya,di sana terpampang kekecewaan yg dirasakan guru TPA karena aku berbicara kasar.Aku melihat kembali tindakanku,ketika aku menyebutnya guru bodoh karena tidak mendengarkanku,kemudian menyaksikan kesedihannya yang ditumpahkan mjd tangisan diam-diam di suatu ruangan.

Di sekolah menengah pertama,aku mengadukan seorang anak yg sudah menggangguku dan melebih-lebihkannya.Secara tidak langsung,tindakanku itu membuatnya dihukum oleh ayahnya.Sekali lagi,aku menyaksikan bagaimana perasaanku saat itu dan perasaan anak itu.
Ketika semua kejadian-kejadian itu ditayangkan,aku tidak merasa dihakimi.Yang kurasakan adalah beban perasaan bersalah.Melihat hal ini,sang penjaga gerbang yang penuh kasih itu mengarahkanku utk melihat hal2 baik yg telah kulakukan,tindakan kepedulian thdp orang lain.Aku melihat nyawa2 yang telah kuselamatkan atau coba kuselamatkan karena aku bekerja di bidang yg menyelamatkan nyawa dan petugas ambulans.Aku tidak ingin memerincinya karena aku merasa tidak nyaman bila mengingat kegagalanku menyelamatkan nyawa org lain.

Setelahnya aku dibimbing lebih dalam memasuki ruangan itu,yg kemudian mnjd aula.Lalu muncullah kakekku.Aku begitu senang bertemu dengannya.Bibir sumbing yg menjadi cirinya telah hilang dan dia terlihat lebih muda ketimbang yg kukenal.Dia juga sangat riang
Meskipun aku tidak menyadari apakah aku memiliki bentuk fisik,aku bisa merasakan pelukannya dan merasa begitu bahagia.Kakekku meninggal ketika aku berusia 14 tahun,dan aku tdk menyadari betapa aku sangat marah karena dia meninggal.Setelah kakek dan aku berbicara sebentar,dia mengajakku memasuki ruangan lebih dalam dan kami mendekati sekerumunan org yg samar2 kukenalimeskipun aku tdk tahu dmn kukenal mereka.Orang yg menyambutku disana,datang dan meletakkan tangannya di bahuku dan memutarku ke arahnya.Sekali lagi aku bisa merasakan sentuhannya,meskipun aku masih tidak sadar bahwa aku memiliki " tubuh"
"Kau harus kembali," katanya." Kau punya tugas."


Aku tdk diberikan perincian mengenai tgs itu.Aku ingin membantah,aku ingin tinggal disana.Aku memandang kakekku tapi aku didorong ke pintu masuk.Di ambang pintu,semua mjd gelap.Kemudian tak ada apa-apa,aku tidak sadar.
Semua itu terjadi pada koma pertama.Ketika aku terbangun,aku masih terombang-ambing oleh pengalaman itu.Aku tdk begitu ingat apa yg terjadi selama 3 hari kemudian,tapi yg jelas aku berbicara mengenai bnyk hal dan aku juga merasa marah kepada Tuhan karena mengirimku kembali.Aku merasa bahwa aku berada di "rumah" ketika aku bersama dengan kakekku.


Ketika aku meninggalkan rumah sakit setelah 3bulan perawatan,aku masih merasa kesakitan dan menderita penglihatan ganda,anosmia(kehilangan indra penciuman),dan kerusakan 8 saraf kranial,yg membuatku merasa mual dan mempengaruhi keseimbanganku.Aku masih merasa marah karena dikirim kembali ke dunia dgn segala penderitaan ini.Tiga bulan setelah meninggalkan rumah sakit,aku berusaha mengakhiri hidupku dan berharap menemukan kembali rasa damai yg kualami pada saat mati suri.Aku meraih pistol dan menarik pelatuknya.Tapi bukan suara dor yg kudengar,melainkan hanya bunyi klik kecil.Aku memaki Tuhan karena mencegahku melepaskan diri dari penderitaanku.


Aku pernah membuat kesepakatan dengan Tuhan perihal kemungkinan kembali ke sana.Aku berkata,"Jika aku kembali ke dunia utk menolong orang lain,atau utk terlibat dgn kelompok2 aksi,bisakah aku kembali ke "rumah"?


Tapi itu tdk berjalan lancar.Nyata sekali,kunci "Tugas" yg kuemban tdk terletak di politik atau kegiatan membantu orang2 cacat.Mungkin,yg mnjd tugasku adalah berbuat baik kepada sesama dan membantu semampuku.


Pengalaman mati suri telah mengubah pandanganku thdp agama.Aku tidak percaya hanya ada satu agama yg benar,menurutku,jika seseorang menganut sebuah agama,mereka harus benar2 mengamalkannya,dan tidak hanya di permukaannya saja.Dan jika mereka tdk bisa mengamalkan ajaran agamanya,seharusnya mereka membangun keyakinan moral yg bisa mereka terapkan.


Dan,tentu saja aku tidak lagi memiliki ketakutan akan kematian.Aku hanya berdoa apa pun "tugas" itu,bisa segera kuselesaikan,sehingga aku bisa segera terbebas dari perjuangan dalam mengerjakannya.
Aku ingin pulang."


Itulah sepenggal cerita dari Rene Turner mengenai mati suri yang benar-benar dialaminya.
Untuk lebih jelas dan mendetail mengenai kisah orang2 yg mengalami mati suri dan apa saja yg dilihat maupun dirasakan,dapat anda beli buku berjudul "Near Death Experiences" oleh Tammy Cohen






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Toelcake souvenir Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal